Berita Utama

Perlunya Penyempurnaan Sistem Presensi dengan KTM-E

Written by derap_online
Mahasiswa menunjukkan Kartu Tanda Mahasiswa Elektronik mereka, yang digunakan untuk presensi di kelas, sesuai kebijakan baru.

Mahasiswa menunjukkan Kartu Tanda Mahasiswa Elektronik mereka, yang digunakan untuk presensi di kelas, sesuai kebijakan baru.

Penerapan sistem presensi mahasiswa menggunakan Kartu Tanda Mahasiswa Elektronik kembali diberlakukan Universitas Esa Unggul, pada awal semester ganjil 2016. Ditengarai, karena ada saran mahasiswa terkait presensi manual yang membutuhkan waktu lama.

Sebelumnya, sistem ini juga pernah diberlakukan, kerjasama dengan Bank Bukopin, satu kartu untuk semua, (presensi, pembayaran administrasi, dan identitas mahasiswa). Biro Administrasi Akademik (BAA), ditunjuk sebagai pelaksana penerapan sistem ini.

“Sekarang kita bekerjasama dengan Bank BRI juga, jadi kalau kayak gitu, mau nggak mau kita bekerjasama dengan kedua bank itu dong? Repot, apa lagi kalau ada yang kehilangan kartu. Lalu, kita memutuskan untuk memisahkan kartu itu (presensi) dengan membuat kartu internal (berwarna abu-abu), tanpa bekerjasama dengan pihak bank manapun dan tidak menghilangkan fungsi kartu masing-masing, digunakan dengan cara ditap (kartu hanya ditempelkan).” Ujar Andri Mauludi, Kepala Departemen Administrasi Akademik, saat ditemui di ruangan Departemen Administrasi Akademik, lantai 1 Universitas Esa Unggul, Senin, (5/12).

Kartu Parkir

Kartu yang dibuat internal kampus ini memiliki tiga fungsi, yaitu sebagai kartu presensi mahasiswa, untuk kegiatan akademik maupun non-akademik kampus (misal: peminjaman buku di perpustakaan Esa Unggul), dan fungsi yang akan diterapkan selanjutnya,  adalah sebagai kartu parkir. Dengan menggunakan KTM untuk keluar-masuk kampus, biaya parkir akan lebih murah dibanding dengan yang tidak menggunakan KTM. Bagi yang tidak menggunakan KTM saat masuk kampus, parkir akan dikenakan biaya per jam oleh vendor parkir. Ditengarai, banyak pihak luar kampus yang parkir, sehingga area parkir makin padat.

Lebih lanjut, BAA menganggap, mahasiswa meremehkan penyuntingan data di siakad. Isi data-data mahasiswa tidak lengkap, bahkan ada yang tidak valid. Padahal data-data yang dibutuhkan kampus penting untuk mahasiswanya. “Misalnya, mahasiswa yang ada masalah dengan namanya di ijazah. Kan repot lagi, kalau begitu. Nggak bisa menyusun Kartu Rencana Studi (KRS), dan lainnya,” tambah Andri Mauludi.

Andri berharap, mahasiswa yang belum membuat KTM segera melengkapi data-datanya di siakad dan lapor ke pihak BAA. Karena dengan KTM, Universitas bisa mengunci data-data mahasiswa dengan lengkap dan valid. Jika terjadi sesuatu pada mahasiswa, cari informasi yang pasti dengan menghubungi langsung masalahnya pada pihak yang bersangkutan di kampus.

Minimnya Sosialisasi

Sebelum menggunakan sistem KTM untuk presensi, mahasiswa mengisi daftar kehadiran dengan sistem manual. BAA menerima saran dari beberapa mahasiswa terkait sistem presensi tersebut. Presensi manual yang tidak menggunakan KTM menyita waktu lama, karena dosen harus memanggil nama mahasiswanya satu per satu. Namun, pandangan lain juga muncul. “Menurut saya, penerapan KTM yang baru kurang efektif, karena banyak waktu yang terbuang, apalagi jika ada mahasiswa yang lupa membawa KTM. Bagaimanapun juga, KTM masih bisa dijadikan alat untuk menitip absen kelas.” Ujar Fridayani, mahasiswa hubungan masyarakat angkatan 2014, saat ditemui di lantai 6, Selasa, (13/12).

Sistem ini juga masih memiliki kekurangan, yaitu pilihan dari daftar kehadiran mahasiswa belum lengkap seperti izin dan sakit. Pilihan  tersebut membuat dosen kebingungan karena pihak kampus kurang menyosialisasikan penerapan sistem tersebut. Saat bersamaan, Herdie yang juga mahasiswa hubungan masyarakat menambahkan, “menurut saya hal ini kurang efektif dan cenderung hanya melakukan pemborosan anggaran.”

Meski demikian, tanggapan positif juga diberikan oleh mahasiswa dan dosen. Salah satunya, Mardiansyah Pambudi, mahasiswa hubungan masyarakat, yang menyatakan perlunya waktu adaptasi. “Sistem baru ini harus disesuaikan lagi agar sistem lebih siap dan absensi lebih efektif lagi. Mungkin karena sistem ini tergolong baru, maka butuh adaptasi, sedikit banyaknya kekurangan saya rasa, wajar. seiring waktu berjalan saya rasa sistem ini akan berjalan efektif.”

“Ini sudah efektif, meringankan beban dosen untuk mengabsen mahasiswa. Tapi di sini, nggak ada alternatif lain untuk mahasiswa yang dikabarkan izin atau sakit. Di sini cuma hadir dan tidak hadir. Saya sendiri masih bingung, sebagai dosen, bagaimana kalau mahasiswa saya sakit atau izin. Bagaimana mengurusnya, saya belum tahu.” Ujar Fajarina, dosen Komunikasi Organisasi yang ditemui di ruang Lab TI lantai 5, Universitas Esa Unggul (7/12).

Maulidya Wibawanti

About the author

derap_online

Leave a Comment

Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.