Sosok

Elang Yang Terbang Ke Pangkuan Tuhan

Written by derap_online

Krisis moneter dan fiskal yang terjadi pada ’98 seolah menggores luka lama kita. Meskipun tinggal kenangan, namun peristiwa berdarah itu seakan masih melekat dalam bayangan rakyat Indonesia. Berbagai gerakan pun berkumpul mencari titik temu atas masalah yang sedang melanda Indonesia.

Kala itu, perjuangan merebut kekuasaan otoriterisme banyak diinisiasi oleh gerakan mahasiswa. Mengingat, mahasiswa saat itu masih sangat paham fungsinya sebagai pengawas dan pembela rakyat dari kekuasaan tirani. Kaum intelektual muda itu berteriak lantang memaksa Suharto mundur dari tampuk kekuasaannya. Perjuangan mereka menjadi awal mula tonggak sejarah akan lengsernya kekuasaan rezim orde baru Presiden Soeharto yang sudah bertahan selama 32 tahun.

7-demo-soeharto

Mahasiswa menduduki kantor DPR/MPR Senayan

 

Salah satunya adalah Elang Mulya Lesmana, seorang mahasiswa Universitas Trisakti, Fakultas Arsitektur, angkatan 1996. Dia bersama teman – teman dan mahasiswa lainnya dari seluruh Indonesia bergerak ke gedung DPR/MPR, menuntut perubahan dan perbaikan atas berbagai krisis yang melanda bangsa Indonesia.

Mereka melakukan aksi damai dari kampus Trisakti menuju gedung DPR/MPR pada pukul 12.30 WIB. Namun, aksi mereka dihambat oleh blokade dari Polri dan militer. Beberapa mahasiswa pun mencoba bernegosiasi dengan pihak Polri. Akhirnya, pada pukul 17.15 WIB para mahasiswa bergerak mundur, diikuti bergerak majunya aparat keamanan.

download (3)

Kerusuhan terjadi di depan kampus Trisakti

 

Aparat keamanan pun mulai menembakkan peluru ke arah mahasiswa. Para mahasiswa panik dan berhamburan. Sebagian besar berlindung di Universitas Trisakti. Namun, aparat keamanan terus saja melakukan penembakan. Satuan pengamanan yang berada di lokasi pada saat itu adalah Brigade Mobil Kepolisian RI, Batalyon Kavaleri 9, Batalyon Infanteri 203, Artileri Pertahanan Udara Kostrad, Batalyon Infanteri 202, Pasukan Anti Huru-Hara Kodam, serta Pasukan Bermotor.

Para aparat pengamanan dilengkapi dengan tameng, gas air mata, Styer, dan SS-1. Puluhan mahasiswa yang berlarian ke dalam kampus ditembaki dari luar kampus. Korban luka dan tewas pun mulai berjatuhan. Akhirnya pada tanggal 12 Mei 1998, Elang Mulia Lesmana tewas tertembak di bagian dada.

elang

Foto kenangan Elang Mulya

 

Mahasiswa kelahiran Jakarta, 5 Juli 1978 itu terkapar jatuh, dua bulan sebelum ia merayakan ulang tahunnya ke 20. Elang pergi meninggalkan perjuangan yang akhirnya direbut kaumnya. Ia terbang menemui Tuhan untuk dipangku. Ia menghadap Tuhan dengan tetesan darah yang mengalir untuk memperjuangkan hak rakyat. Peristiwa itu dikenal sebagai Tragedi 12 Mei ’98, Trisakti.

Atas perjuangannya, Elang pun dianugerahi gelar Pahlawan Reformasi, menurut Keppres No. 057/TK/2005, 15 Agustus 2005. Dia dimakamkan di Pemakaman Umum Tanah Kusir, Jakarta. Pada peringatan Kemerdekaan RI ke-60, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menganugerahinya Bintang Jasa Pratama.

Tak hanya itu, pihak Universitas Trisakti mengabadikan nama Elang Mulia Lesmana sebagai nama salah satu gedung tempat dia menuntut ilmu. Gedung itu bernama Gedung Elang Mulya Lesmana, yang merupakan bangunan kuliah Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan.

Baca Juga: “Saya Tak Menyesali Apapun Yang Pernah Saya Tulis”

Rep: Rieski Shaome/Ed: Alfridho Yuliananda

About the author

derap_online

Leave a Comment

Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.

%d bloggers like this: